Seleksi Calon Anggota Baru Haliaster 21, Tahap 2

Setelah memperhatikan, menimbang dan memutuskan pada rapat koordinasi pengurus haliaster bahwa calon calon haliasterian yang telah lolos pada sesi wawancara sebagai berikut :

1. Adriamin Azis*
2. Ayu Anintya*
3. Dewi Purwaningsih*
4. Edi Purnomo*
5. Edwin Nurimansyah
6. Eko Budi Harto*
7. Gholda Yuniar*
8. Hesti Fajar Utami*
9. Kuwatini*
10. Luqman Hakim*
11. Muhammad Azis
12. Noldy Yonatan
13. Samsul Rizal

Nama-nama tersebut diatas adalah yang dapat melanjutkan ke tahapan selanjutnya.

Semoga haliaster mendapat kader kader haliastertian dan lingkungan yang loyal dan berdedikasi tinggi terhadap haliaster dan almamater Undip.

Kami ucapkan selamat berjuang.

Ket : (*)
Diharuskan melengkapi kekurangan berupa pas photo dan dikumpulkan secara kolektif paling lambat 08 April 2011.

Wajib datang pada hari sabtu tgl 01 april 2011 di taman Biologi FMIPA Undip.

Did you like this? Share it:
Posted in Organisasi, Pendidikan Dasar | Tagged , , , | 1 Comment

Herpetofauna

Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “herpeton”yang berarti melata dan “fauna” yang berarti binatang. Jadi herpetofauna adalah binatang-binatang yang melata. Herpetofauna sendiri memiliki ukuran tubuh yang bermacam-macam, namun memiliki keseragaman yaitu berdarah dingin/poikilotermik. Fauna ini menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu lingkungannya. Kelompok ini diklasifikasikan menjadi 2 kelas yaitu, kelas amphibia dan reptilia berdasarkan beberapa ciri yang berbeda dan mencolok. Kedua kelas herpetofauna tersebut dibagi-bagi lagi menjadi beberapa Ordo yang kemudian akan berlanjut lagi ke famili.

Amphibi merupakan hewan yang hidup di 2 habitat atau alam, yaitu perairan dan daratan. Herpetofauna yang satu ini memiliki kelembaban kulit yang tinggi dan tidak tertutupi rambut. Kata amphibi sendiri berasal dari kata “amphi” yang berarti ganda dan “bios” yang berarti hidup. Secara asal kata, amphibi didefinisikan sebagai hewan-hewan melata yang dapat hidup di dua alam. Kelas herpetofauna ini dibagi menjadi 3 ordo yang masih ada hingga sekarang, yaitu Caudata(amphibi berekor), Anura(amphibi tidak berekor), Gymnophiona(amphibi tidak bertungkai). Umumnya kelas ini memiliki siklus kehidupan seperti beberapa jenis insekta/serangga yang mengalami metamorfosis.

Caudata            Merupakan ordo amphibia yang memiliki ekor. Jenis ini memiliki tubuh yang panjang, memiliki anggota gerak dan tidak memiliki tympanum(seperti telinga pada manusia). Beberapa species Caudata mempunyai insang dan lainnya paru-paru. Kemudian ada juga yang dapat bernafas menggunakan kulit. Tubuhnya terdiferensiasi antara kepala, tubuh dan ekor. Pada bagaian kepala terdapat mata yang kecil dan pada beberapa jenis, mata mengalami reduksi(Fajar Suprianto, 2009). Umumnya ordo ini lebih dikenal sub-ordonya yaitu Salamandroidea atau Salamander. Sebenarnya masih ada 2 sub-ordo lain(Sirenidea dan Cryptobranchoidea), tapi jenis ini yang paling sering ditemukan.

Anura            Merupakan amphibia yang tidak berekor(dewasa). Namun pada siklus hidupnya, ordo Anura atau yang lebih dikenal dengan katak ini memiliki ekor saat pada fase juvenile(muda, berudu/kecebong). Ordo ini sering dijumpai dengan tubuhnya seperti sedang jongkok. Tubuhnya terdiferensiasi menjadi 3 bagian yaitu kepala, badan, dan anggota gerak(2 pasang tungkai=tetrapoda). Kulitnya cenderung basah karena memiliki kelenjar lendir dibawah kulitnya. Anura sendiri sering dibagi menjadi istilah katak dan kodok. Ciri yang paling mencolok adalah tekstur kulitnya, dimana kulit katak lebih halus dari kodok juga bentuk tubuh katak yang lebih ramping daripada kodok. Ordo ini hidup dapat hidup di dua tempat yaitu pepohonan(arboreal) dan daratan yang termasuk kedalamnya sumber air(terestrial).

Gymnophiona            Merupakan amphibia yang umumnya tidak memiliki anggota gerak dan beberapa jenis alat geraknya tereduksi secara fungsional. Tubuh menyerupai cacing (gilig), bersegmen, tidak bertungkai, dan ekor mereduksi. Hewan ini mempunyai kulit yang kompak, mata tereduksi, tertutup oleh kulit atau tulang, retina pada beberapa spesies berfungsi sebagai fotoreseptor. Di bagian anterior terdapat tentakel yang fungsinya sebagai organ sensory. Kelompok ini menunjukkan 2 bentuk dalam daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam air dan bernafas dengan insang. Pada fase dewasa insang mengalami reduksi, dan biasanya ditemukan di dalam tanah atau di lingkungan akuatik(Fajar Suprianto, 2009).

Reptilia merupakan kelas Herpetofauna berukuran besar. Sebagian besar kelas ini merupakan hewan tetrapoda kecuali bangsa ular-ularan(Ophidia). Kelas ini memiliki ciri khas yaitu tubuh anggota kelas reptil di tutupi oleh sisik atau memiliki sisik. Kelas ini dibagi menjadi 4 ordo yaitu Testudinates, Crocodylia, Sphenodontia, dan Squamata.

Testudinates            Merupakan ordo reptil yang memiliki cangkang sebagai tempat berlindung maupun menjadi bagian tubuhnya. Cangkang tersebut terbagi menjadi 2 yaitu karapaks pada bagian atas dan plastron sebagai perisai dada. Yang masuk ke ordo ini adalah segala jenis kura-kura dan penyu.

Crocodila            Merupakan ordo yang mencakup reptil yang berukuran paling besar diantara yang lain. Kulitnya ditutupi oleh sisik sisik dari bahan tanduk yang termodifikasi bentuknya menjadi seperti perisai. Buaya memiliki jantung yang terbagi menjadi 4 ruang, namun sekat ventrikel kanan dan kiri tidak sempurna membatasi darah. Sehingga terjadi pencampuran darah. Pola perilakunya yang paling mencolok adalah ordo ini sangat suka berjemur di siang hari untuk menaikkan suhu tubuhnya. Crocodilian merupakan hewan nokturnal, tapi tidak menutup kemungkinan bangsa ini berburu di siang hari. Di habitatnya, buaya dewasa memiliki daerah kekuasaan untuk dirinya sendiri maupun untuk kelompoknya. Ordo ini dibagi menjadi tiga famili, antara lain famili alligatoridae, famili crocodylidae, famili gavialidae.

Sphenodontia            Merupakan ordo reptil yang anggotanya merupakan kadal-kadal purba. Salah satu contohnya adalah Tuatara. Hewan ini hanya tersisa dua jenis di dunia dan merupakan species endemik di Selandia Baru. Selain itu, kadal ini merupakan bukti peninggalan zaman dinosaurus yang hidup pada 200 juta tahun yang lalu.       Squamata            Merupakan ordo reptil yang mengalami pergantian kulit atau sisik secara periodik(molting). Tubuhnya ditutupi oleh sisik yang terbuat dari bahan tanduk. Squamata sendiri diklasifikasikan menjadi tiga sub-ordo, yaitu Sauria(contohnya kadal, iguana, dsb), Ophidia(bangsa ular-ularan), dan Amphisbaenia(squamata tak bertungkai, sisik tersusun seperti cincin-cincin; sering disebut worm-like lizard).(UGM-studi herpetofauna:1 Juni 2010)

Did you like this? Share it:
Posted in Biodiversitas | Tagged , , | Leave a comment

Katak Terkecil di Dunia Microhyla nepenthicola

Microhyla nepenthicola ditemukan di dekat Gunung Serapi, di dalam Kubah, Taman Nasional Kalimantan tahun 2004. Katak ini berukuran kurang dari 1,5 centimeter dan berwarna merah oranye. Selain ukurannya yang kecil, hewan amfibi ini memiliki ciri-ciri unik yang berbeda dengan spesies lainnya. Katak ini biasanya mulai bernyanyi menjelang senja, membuat serangkaian suara serak keras yang berlangsung selama beberapa menit, diikuti dengan interval singkat diam. Simfoni “amfibi” ini berlangsung dari matahari terbenam sampai menjelang dini hari.

Katak ini ditemukan tim peneliti yang dipimpin Drs. Indraneil Das dan Alexander Haas dari Institute of Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Lingkungan di Universiti Malaysia Sarawak, dan Biozentrum Grindel und Zoologisches Museum Hamburg. Tim peneliti menemukan katak tersebut di semak-semak hutan Taman Nasional Kalimantan. Karena bentuk tubuhnya yang mungil, para peneliti mengusulkan nama untuk katak tersebut adalah microhylid, yakni nama spesies untuk katak yang berukuran di bawah 15 milimeter.

Nama ilmiah Microhyla Nepenthicola diberikan setelah para peneliti mengetahui bahwa katak mungil mendapat makanan dan bertahan hidup dari tanaman Nepenthes Ampullaria. Pada tanaman Nepenthes Ampullaria katak kecil itu menitipkan telur-telurnya hingga menjadi kecebong yang kemudian berenang di sisi-sisi tanaman yang basah. Tanaman Nepenthes Ampullaria adalah jenis tumbuhan yang hidup di daerah lembab dan hutan teduh.

Untuk dapat menjumpai katak Microhyla Nepenthicola, para peneliti harus menunggu hingga sore hari ketika katak jantan mulai “bernyanyi” di sekitar tanaman. Dengan interval nada yang teratur, katak-katak itu mengeluarkan suara yang dikenal sebagai simfoni amfibi sejak matahari terbenam hingga menjelang dini hari.

Did you like this? Share it:
Posted in Biodiversitas | Tagged , , , | Leave a comment

Catatan Pertama: Leptobrachium hasseltii di Gonoharjo

Leptobrachium hasseltii salah satu jenis katak serasah yang menjadi incaran kami dalam pencarian amphibi di Semarang. Beberapa kali kami survei amphibi di Gunung Ungaran, belum pernah kami berjumpa dengan katak serasah ini. Akhirnya mimpi itu menjadi nyata, malam pencarian amphibi di hutan pinus Gonoharjo membuahkan hasil yang memuaskan karena kami dapat bertemu dengan katak ini. Mungkin bagi kelompok ataupun orang lain bertemu dengan jenis katak ini adalah biasa, tapi buat kami yang sedang belajar mengenai herpetofauna, penemuan jenis yang belum pernah kami lihat merupakan suatu kebanggaan tersendiri.

Katak ini teramati sedang terdiam di balik dedaunan pinus yang berguguran. Sekitar pukul setengah sembilan malam kami berjumpa dengan katak ini. Malam itu cuaca agak mendung, bulan tak menampakkan sinarnya, dan suhu kira-kira 19-20 C. Tubuh katak ini berwarna keabu-abuan dengan corak hitam dibeberapa bagian tubuhnya, tubuh bagian ventral berwarna kebiruan, dan mata berwarna biru. Tambahan 1 list lagi untu Haliaster.

Semangat para Haliasterian!!!!

Koak koak koak….

Did you like this? Share it:
Posted in Biodiversitas, Ekspedisi | Tagged , , , , , | Leave a comment

Gonochepalus chamaeleontinus bertelur?


Gonochephalus chamaleontinus, gonoharjo by donadoni

Gonochephalus chamaleontinus, gonoharjo by donadoni

 

 

 

Gonochepalus chamaeleontinus atau Tioman Angle-Headed Lizard merupakan salah satu jenis bunglon dari Suku Agamidae yang dapat ditemukan di Pulau Jawa. Menurut Das (2010) bunglon ini memiliki panjang tubuh kurang lebih 170 mm, tubuh kuat, kepala besar dengan alis melengkung yang khas, bagian dorsal berwarna hijau dengan variasi kuning pada beberapa bagian, iris merah-coklat, hidup di hutan, aktif siang hari, dan arboreal. Bunglon ini tersebar di semenanjung Malaysia, Sumatera, Kepulauan Mentawai dan Natuna, dan Jawa.

Perjumpaan pertama saya dengan Gonochepalus chamaeleontinus di Semirang Gunung Ungaran. Waktu itu, saya bersama rekan Haliaster yang lain sedang melakukan survei amphibi di kawasan ini dan secara kebetulan bertemu dengan bunglon yang satu ini. Akhir Februari lalu, secara kebetulan perjumpaan dengan Gonochepalus chamaeleontinus terjadi lagi. Kali ini perjumpaannya dengan format yang berbeda. Waktu di Semirang perjumpaan terjadi pada waktu malam hari saat bunglon sedang tidur di pohon, kali ini saya bersama Candra (“Hombreng”) berjumpa dengan bunglon ini saat siang hari di tepi aliran saluran irigasi saat bunglon sedang membuat lubang. Continue reading

Did you like this? Share it:
Posted in Biodiversitas, Ekspedisi | Tagged , , , , , , , | Leave a comment