Sejarah

Ide awal terbentuknya Haliaster berawal ketika beberapa Mahasiswa Biologi sedang bertukar pikiran pada tanggal 24 Juni 1989. Pada saat itu dirasakan perlu adanya suatu wadah yang mendukung studi ilmu Biologi, sekaligus mampu untuk menyalurkan jiwa cinta alam, agar pergerakannya akan lebih terarah. Atas dasar ide tersebut, maka disepakati untuk membentuk suatu wadah dibawah Panji Biologi. Sebagai langkah perealisasian dan penjajagan dari ide tersebut maka diadakan suatu kegiatan ke Gedong Songo, Semarang.

Dari proses penjajagan di Gedong Songo tersebut memberikan hasil yang signifkan, sehingga sebagai proses selanjutnya disetujui untuk memberi nama wadah ini dengan nama HALIASTER sebagai identitas. Adapun nama ini diambil dari nama salah satu genus burung Elang (pada saat itu Haliastur indus bernama Haliaster indus), yang melambangkan ketangguhan dan kepekaan terhadap alam sekitarnya. Dengan identitas ini, diharapkan setiap anggota mempunyai jiwa yang ulet, disiplin, tangguh serta peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Setelah HMJ Biologi terbentuk (tahun 1989), maka Haliaster bernaung di bawah Bidang III (Minat dan Kegemaran) HMJ Biologi. Kemudian berkenaan bahwa HMJ Biologi berada di bawah Senat Mahasiswa MIPA, maka pada Raker Senat Mahasiswa MIPA tanggal 27 Oktober 1989, telah disetujui dan dikukuhkan bahwa Haliaster sebagai salah satu wadah bagi mahasiswa Biologi dalam kepecintaalaman dan studi ilmu pengetahuan biologi. Kini, setelah HMJ Biologi mengadakan Musyawarah Kerja Luar Biasa pada tahun 2002, Haliaster masuk dalam biro yang memiliki otonomi khusus dan bertanggungjawab langsung kepada Ketua HMJ Biologi.

Dilihat dari sejarah berdirinya, Haliaster merupakan oranisasi mahasiswa yang lahir atas kehendak, prakarsa dan hasil pemikiran mahasiswa. Haliaster terbentuk bukan atas kehendak pimpinan akademik. Namun demikian Haliaster diakui sebagai salah satu wadah kegiatan mahasiswa yang mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan positif sesuai dengan Tri harma Perguruan Tinggi.

Comments are closed.